Sunday, October 7, 2018

Kerang Hijau: Penyelamat Kelamnya Kondisi Air Teluk Jakarta

TRIBUNNEWS.COM - Teluk Jakarta merupakan wilayah perairan dangkal di utara Provinsi DKI Jakarta. Pada teluk ini bermuara 13 sungai yang membelah Kota Jakarta.

Namun sayangnya akibat pencemaran di sungai oleh limbah domestik rumah tangga dan industri berakibat menurunnya kualitas air laut di Teluk Jakarta.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan terjadinya ledakan plankton atau lebih parah meyebabkan terjadinya Red Tide yang diikuti penurunan oksigen secara tiba-tiba.

Pantai Ancol jadi salah satu tempat yang terkena dampaknya. Sebagai wilayah pesisir, lokasi ini adalah habitat alami dari beberapa jenis biota laut seperti kerang hijau, kepiting batu, ketang-ketang, ubur-ubur, baronang, kerapu, ganggang laut dan berbagai jenis lainnya.

Keberadaan biota ini kurang optimal dikarenakan kualitas air laut yang kurang baik.

Apabila terus didiamkan, keadaan tersebut akan semakin memburuk dan mengancam kelestarian wilayah pesisir khususnya pariwisata pantai satu-satunya di Jakarta.

Walaupun tidak mudah, upaya pelestarian atau pengembalian kualitas air laut sudah seharusnya dilakukan demi keberlangsungan ekosistem pesisir yang lebih baik.

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, sebagai pengelola destinasi wisata Ancol Taman Impian pun tidak tinggal diam.

Melalui Tim Konservasinya, Ancol menjalankan sebuah program jangka panjang bernama Ancol Intertidal Conservation, Asian Green Mussel Reef Restoration.

Tim Konservasi Ancol.
Tim Konservasi Ancol. (dok. PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk)

Program ini berupaya mengembalikan kualitas air laut menggunakan biota Green Mussel atau kerang hijau sebagai filter alami.

Mengadaptasi dari beberapa kampanye yang sudah dilakukan pada banyak teluk di belahan dunia, kemampuan kerang hijau memfilter air laut bukanlah isapan jempol belaka.

Menurut penelitian dari The University of Waikato pada 2013, seekor kerang hijau dewasa dapat membersihkan atau memfilter air sebanyak 2 sampai 3 liter perjam.

Hal ini telah dibuktikan melalui percobaan yang dilakukan Tim Konservasi Ancol. Lewat penelitian tersebut, Kerang hijau sebanyak 5 kg terbukti dapat membersihkan 50 liter air laut dalam waktu 1 jam.

Pada tahap awal program, dilakukan penanaman bibit kerang hijau di beberapa titik di wilayah pantai Ancol.

Masing-masing kelompok bibit diberi tanda berupa balon berwarna merah yang disebut Marker Buoy.

Marker Buoy tanda penanaman kerang hijau.
Marker Buoy tanda penanaman kerang hijau. (dok. PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk)

Evaluasi dan monitoring rutin dilakukan setiap minggu agar mengetahui titik mana saja yang dapat ditumbuhi kerang hijau secara baik.

Tahap selanjutnya adalah menanam bibit kerang hijau lebih banyak lagi pada lokasi yang terbukti cocok sehingga kerang tumbuh subur.

Jika populasi kerang hijau meningkat maka secara otomatis dapat meningkatkan kapasitas kerang hijau dalam memfilter air laut, sehingga secara perlahan kualitas air laut di sekitarnya dapat membaik atau setidaknya dapat menahan laju penurunan kualitas air laut.

Program ini memang belum akan terlihat hasilnya dalam dua atau tiga tahun ke depan namun membutuhkan waktu hingga 20 sampai 30 tahun.

Walau begitu, upaya kecil ini merupakan langkah nyata kepedulian Ancol terhadap pelestarian keberlangsungan ekosistem pesisir di teluk Jakarta.

Let's block ads! (Why?)

Baca Di sini Bro http://www.tribunnews.com/nasional/2018/10/08/kerang-hijau-penyelamat-kelamnya-kondisi-air-teluk-jakarta

Saturday, October 6, 2018

Susi Pudjiastuti: Stop Penggunaan Alat Tangkap Ikan Perusak Laut

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta berbagai pihak mengerahkan segenap upaya untuk menghentikan penggunaan alat tangkap ikan yang merusak lingkungan laut dan kawasan perairan nasional.

"Laut dan sumber daya alam di dalamnya dapat dijaga dengan berhenti menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan dan berhenti mencemari laut dengan bahan kimia berbahaya (bom, potassium, dan dinamit)," kata Susi dalam rilis di Jakarta, Ahad, 7 Oktober 2018.

Sebelumnya, KKP menyatakan produktivitas sektor perikanan berpotensi terus menurun akibat semakin banyaknya sampah plastik masuk ke kawasan perairan nasional. Jika sampah plastik ini tidak dikendalikan atau dikelola dengan baik, maka terjadi proses pelapukan menjadi mikro dan nano plastik yang akan merusak ekosistem pesisir dan dimakan oleh plankton serta ikan

Susii juga meminta kepolisian setempat menindak tegas perilaku-perilaku melanggar tersebut. Pemerintah daerah juga diharapkan membuat kebijakan dalam pengelolaan laut dan sumberdayanya yang tegas dan berkekuatan hukum, seperti peraturan daerah (Perda).

Ia menambahkan, bahwa semua orang berhak untuk mempertahankan mata pencahariannya, apalagi jika sumber pencaharian itu berupa ekosistem. "Namun tidak boleh ada kekerasan, pelakunya diamankan saja," tutur Susi.

Susi Pudjiastuti mencontohkan bagaimana Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menindak tegas para pelaku penangkapan ikan ilegal melalui proses hukum tanpa melakukan kekerasan terhadap nakhoda, awak kapal maupun pemiliknya.

ANTARA

Let's block ads! (Why?)

Baca Di sini Bro https://bisnis.tempo.co/read/1133746/susi-pudjiastuti-stop-penggunaan-alat-tangkap-ikan-perusak-laut?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_1

Greenpeace Temukan 700 Merk Sampah Plastik di Pantai

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

LSM bidang lingkungan hidup, Greenpeace menemukan hingga lebih dari 700 mereka sampah plastik dari audit yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia bersama sejumlah komunits lokal di tiga pantai di sejumlah daerah Indonesia.

"Ada 797 merek dari sampah plastik yang kami temukan dari tiga lokasi, di mana yang terbesar adalah merek-merek makanan dan minuman (594 merek), kemudian merek-merek perawatan tubuh (90), kebutuhan rumah tangga (86), dan lainnya (27)," kata Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (06/10/2018).

Audit mereka sampah plastik tersebut dilakukan pada pertengahan September di tiga lokasi, yaitu Pantai Kuk Cituis (Tangerang), Pantai Pandansari (Yogyakarta), dan Pantai Mertasari (Bali).

Selain itu, ujar dia, pihaknya juga menemukan banyak sampah plastik yang tidak terlihat lagi merekanya.

"Ini mengindikasikan bahwa sampah tersebut sudah lama terbuang dan berada di lingkungan tersebut," jelas Atha.

Ia memaparkan bahwa secara global, hanya 9 persen sampah plastik yang didaur ulang dan 12 persen dibakar. Dengan kata lain, 79 persen sisanya berakhir di tempat-tempat pembuangan maupun saluran-saluran air seperti sungai yang bermuara ke lautan.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan produktivitas sektor perikanan berpotensi untuk terus menurun akibat semakin banyaknya sampah plastik masuk ke kawasan perairan nasional.

"Produktivitas perikanan dapat menurun dan implikasi dari mikroplastik bisa masuk ke jejaring makanan yang akhirnya dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Moh. Abduh Nurdihajat.

Ia memaparkan, menjelang penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) 2018, KKP juga menggelar Gerakan Bersih Pantai dan Laut seperti di Pantai Pede, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Rabu (3/10). Kegiatan bersih pantai tersebut dilakukan dengan mengumpulkan sampah-sampah di pesisir pantai, terutama sampah plastik untuk kemudian ditimbang.

Dalam kegiatan tersebut, lebih dari 1 ton sampah terkumpul, yakni tepatnya 1.007,54 kg. Sampah-sampah tersebut selanjutnya akan dikirim ke tempat pengolahan sampah di Manggarai Barat.

"Sampah plastik telah menjadi ancaman yang serius. Tidak hanya sampah yang berasal dari daratan Labuan Bajo, tapi juga sampah dari pelayaran laut dan yang terbawa arus serta dari pulau-pulau kecil sekitar Komodo," ujar Abduh.

Abduh menambahkan, jika sampah plastik ini tidak dikendalikan atau dikelola dengan baik, maka terjadi proses pelapukan menjadi mikro dan nano plastik yang akan merusak ekosistem pesisir dan dimakan oleh plankton serta ikan.

Mengingat pencemaran laut sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia, maka diperlukan upaya bersama seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah untuk melakukan pengendaliannya.

"Upaya bersama menyelamatkan potensi pesisir dan laut dari ancaman pencemaran terutama sampah laut harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan," ungkapnya.

Let's block ads! (Why?)

Baca Di sini Bro https://www.wartaekonomi.co.id/read198043/greenpeace-temukan-700-merk-sampah-plastik-di-pantai.html