
"OHCHR terus menerus memberikan informasi kepada China tentang nama-nama pegiat HAM yang berencana datang ke Jenewa," tulis seorang staf OHCHR, Emma Reilly, melalui surat yang ditujukan kepada Kongres tertanggal 21 Oktober lalu.
Seperti dilansir Fox News, Rabu (18/12), Reilly menyatakan praktik itu sudah terjadi sejak 2013. Namun, pada 14 Desember lalu, Juru Bicara Dewan HAM PBB, Rolando Gomez, membantah tuduhan tersebut.
"OHCHR tidak mempunyai alasan untuk memaparkan nama-nama pegiat HAM yang akan datang ke dewan," kata Gomez.
Shunli dilaporkan ditangkap di Bandara Beijing pada 2013 ketika hendak menunjuk rapat Dewan HAM PBB di Jenewa. Insiden itu terjadi enam bulan setelah laporan Reilly.
Shunli lantas meninggal di dalam tahanan enam bulan kemudian karena dilarang berobat.
Reilly yang merupakan warga Inggris dan Irlandia menyatakan akibat laporannya itu dia justru dipojokkan. Menurut dia, Turki juga pernah meminta hal yang sama tetapi PBB hanya mau memberikannya kepada China.
"Ketimbang mengambil langkah untuk menghentikan hal itu, PBB hanya fokus membalas saya terkait laporan tersebut. Saya dipermalukan, dikucilkan, tidak diberi tugas dan karir saya dihancurkan," tulis Reilly.
Pengaruh China di Dewan HAM PBB dilaporkan semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada Juli lalu, delegasi China dua kali menginterupsi kesaksian penyanyi sekaligus aktivis Hong Kong, Denise Ho. Saat itu Denise meminta kepada PBB supaya mendepak China dari keanggotaan akibat gejolak yang terjadi di Hong Kong.
Pada November 2018, sebanyak delapan lembaga swadaya masyarakat menyampaikan pernyataan bersama soal keprihatinan terhadap Dewan HAM PBB yang mencabut tujuh laporan mereka yang akan membahas catatan HAM China.
Lantas pada April 2017, aparat keamanan di markas PBB di New York mengusir aktivis Uighur, Dolkun Isa, tanpa penjelasan. Setahun kemudian, perwakilan China sekaligus mantan Wakil Sekretaris Jenderal PBB Urusan Ekonomi dan Sosial, Wu Hongbo, mengaku dalam wawancara dengan stasiun televisi setempat, CCTV, bahwa dia yang memerintahkan pengusiran terhadap Isa secara pribadi.
"Sebagai diplomat China, kita harus berhati-hati menyangkut isu tentang kedaulatan negara dan kepentingan nasional," kata Wu saat itu.
No comments:
Post a Comment