"Kita tidak bisa mengabaikan kelompok dengan kemampuan yang berbeda ini. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk memastikan mereka mendapatkan kesempatan yang sama," kata Maszlee saat diwawancara dengan CNNIndonesia.com di Putrajaya, Malaysia, Jumat pekan lalu.
Maszlee mengatakan pendidikan bagi kelompok penyandang cacat tidak bisa disamakan dengan mereka yang normal. Namun, pemerintah Malaysia tetap menerapkan batas persyaratan yang harus dipenuhi.
"Mereka juga tidak boleh dibedakan. Kita tempatkan mereka dalam satu ruangan dengan pelajar lain yang normal supaya mereka tidak merasa tersisih," ujar Maszlee.
Menteri Pendidikan Malaysia, Dr. Maszlee Bin Malik. (CNN Indonesia/Aryo Putranto Saptohutomo) |
Libatkan Industri
Pemerintah Malaysia juga mencoba merangkul kalangan industri dan swasta untuk membuka jalan bagi kelompok difabel untuk bisa berkarir. Sebab, hal itu yang selama ini dianggap belum tersentuh.
"Kami bertanggung jawab untuk bisa mengantarkan dan memastikan mereka untuk bisa berkarya atau menghidupi diri sendiri bahkan orang lain," kata Maszlee.
Maszlee menyatakan beberapa perusahaan sudah mulai membuka diri dengan menerima kelompok difabel untuk berkarier di perusahaan mereka. Dia berharap kerja sama itu bisa berlanjut dan semakin membuka peluang bagi kalangan difabel bekerja di lembaga negara atau swasta. (ayp)
Menteri Pendidikan Malaysia, Dr. Maszlee Bin Malik. (CNN Indonesia/Aryo Putranto Saptohutomo)
No comments:
Post a Comment